Besi Beton Dijadikan Bahan Daur Ulang Tempat Di Rumah

Dari keprihatinan hal yang demikian terbetik pandangan baru di benak ketiga mahasiswa itu. Pada Holcim Innovation Hunt 2010, ketiga mahasiswa yang bergabung menjadi Regu Proton menghasilkan WC portable dengan cara knock-down (bongkar pasang). Mereka memilih beton daur ulang sebagai bahan WC.

Material itu terbuat dari bahan daur ulang, seperti beton kupasan permukaan jalan, runtuhan bangunan, bagus dampak musibah alam ataupun sisa proyek. Di Indonesia, penerapan limbah masih jarang padahal jumlahnya berlimpah. Sebaliknya, di negara seperti Jerman dan Austria, limbah itu dipasarkan secara komersial. Ramah lingkungan ”Penerapan beton daur ulang mengurangi pencemaran lingkungan dan memberi skor ekonomis pada limbah. Produknya juga lebih awet,” kata Muhammad Yanuar Ardi dipandu kedua rekannya dan dosen pembimbing mereka.

Beton daur ulang dibuat dengan menghancurkan limbah sampai berukuran kurang dari 1 sentimeter persegi. Kemudian dicampur dengan bahan beton halus, semen, air, silicafume (butiran halus untuk membikin campuran beton lebih padat), dan pengencer beton.

Komposisi ini meniru formula pembuatan self-compacting concrete (SCC), ialah beton yang bisa memadat tanpa bantuan vibrator atau alat seperti molen. ”Tujuan kami untuk memopulerkan SCC sebab menghemat daya dan waktu. Di Indonesia baru diaplikasikan untuk pembuatan Jembatan Suramadu dan sebuah jembatan di Jakarta,” kata Sholihin.

Adonan beton lalu dicetak menjadi kepala, badan, leher, dan laci kloset, serta septic tank dan leher angsa. Rangkaian WC ditambah penutup, besi penyokong, harga besi beton penyangga, dan roda. Karya ini meraih pemenang kedua dalam final laga yang dilakukan regu dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Institut Teknologi Bandung. Mereka terpilih dari 45 regu peserta permulaan dari beraneka perguruan tinggi. Yanuar mengatakan, untuk tahap pertama perlu tarif Rp 5,68 juta per unit sebab pembuatan cetakan perlu tarif besar.

Pengalaman menjadi sukarelawan di Yogyakarta ketika Gunung Merapi meletus memunculkan kesan mendalam bagi Muhammad Yanuar Ardi, Kurnia Widiantoro, dan M Bahtiar Arief. Ketiganya mahasiswa semester VIII Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Solo, Jawa Tengah. Mereka menyaksikan susahnya korban musibah di eksodus mencari fasilitas WC. Kesusahan ini berujung pada lingkungan yang tak sehat.

Baca Juga Artikel : https://solusibaja.co.id/produk-produk-besi-baja-dan-logam/wire-mesh-wiremesh/