Pura-Pura Kaya atau Pura-Pura Miskin?

pura-pura kaya atau pura-pura miskin?

Sebagian waktu lalu, saat aku men-upload foto sebuah panorama di luar negeri, ada sahabat yang berkomentar semacam ini—wuih, jalan-jalan mulu, nih! Komentar itu kedengarannya lazim saja, ya? Tetapi jika dimaknai lebih dalam lagi, kau akan punya perasaan yang sama dengan aku—sahabat aku ini, entah dengki atau entah menganggap bahwa aku kaya dan kasta aku telah jauh berada di atasnya.

Meski untuk dapat ke negara tetangga itu, aku semestinya mengumpulkan uang hasil kerja berbulan-bulan. Di sana juga tak mungkin aku mengorder makan malam mewah di atap Hotel Marina Bay, atau candlelight dinner sembari merasakan putaran Singapore Flyer.

Baca juga : Pintu Garasi

Ini bukan pertama kalinya aku mendengar komentar memuji-namun-nyindir. Bukan hanya buat aku—namun buat orang lain juga. Umpamanya nih, ketika membeli ransel baru yang branded, sebagian orang akan cuap-cuap semacam ini—edan, ranselnya mahal banget, kayak Syahrini. Menjalankan kesibukan yang dianggap mewah oleh lingkungan sosial—termasuk mengenakan barang-barang mewah—seringkali dianggap sebagai wujud perilaku pamer.

Makanya—jika kau rajin membuka Instagram—kau akan memandang alangkah banyaknya hujatan yang dikasih pada para selebritas yang ke luar negeri, gunakan ransel branded, atau makan di cafe sushi eksklusif yang pemotongan ikannya dijalankan di depan mata pelanggan. Sistem hujatannya bermacam-macam, namun yang paling tak jarang aku baca kurang lebih semacam ini—banyak orang yang sulit makan/kena musibah/hidup di tempat perselisihan, melainkan lo masih aja sedap-enakan semacam ini.

Jasa Pembuatan Kolam Renang

Irasional? Ya terang. Berdasarkan aku, tak ada korelasi terang antara ada perselisihan di tempat tertentu, sama orang yang memang punya gaya hidup mewah. Mungkin buat kalian—ransel Louis Vuitton seharga dua puluh juta itu mahal harganya. Tetapi buat orang lain—dapat saja skor rasanya sama seperti kau yang beli ransel di Miniso seumpama. Jadi, saat ia menampakkan hal itu di media sosial pun di depanmu sekalipun, kemungkinan besar ia tak benar-benar berniat untuk pamer.

Menyebalkannya, masyarakat kita susah untuk mendapatkan hal itu di antara berjenis-jenis kesenjangan sosial yang hadir atau yang mereka rasakan. Karenanya, tak heran jika kini banyak sobat kaya yang mengaku sebagai sobat miskin—atau kata bekennya, misqueen.

Kontraktor Kolam Renang

Pengakuan itu dapat dijalankan via berjenis-jenis tipe metode. Pertama, dengan membandingi diri dengan konglomerat kaya, kemudian mengklaim bahwa mereka merasa seperti ceceran kopi kekinian di lantai. Kedua, dengan mengatakan bahwa ransel yang mereka beli yaitu ransel bekas/palsu, pura-pura menerima karcis promo atau gratisan kuis tamasya, atau bilang bahwa di perusahaan, posisi mereka hanyalah staf lazim. Ketiga, mengaku jika tabungan mereka ludes sebab membeli barang tertentu atau tamasya ke suatu daerah. Tetapi, ketiga metode itu akan patah dengan kalimat ini: ah lo mah sok merendah.

Kebanggaan itu dahulu memang terdengar menyenangkan. Tetapi, lama-kelamaan, itu menjadi sindiran yang menampakkan ketidakpercayaan orang kepada kemiskinan seseorang. Prasangka itu kemudian berkembang menjadi cap tinggi hati, rasa sakit hati, sampai tuduhan korupsi. Karenanya, tak mengherankan jikalau banyak orang yang justru mau nampak miskin. Kontradiktif memang dengan istilah BPJS alias budget ideal-pasan jiwa sosialita yang memang telah jadi sebuah fenomena masyarakat semenjak lama.

Keduanya memang punya wujud kesusahan yang berbeda. Bagi mereka yang pura-pura kaya, kesusahan berlokasi pada bagaimana metode untuk menyembunyikan jumlah orisinil tabungan dan meraih barang-barang serta gaya hidup yang mewah. Bagi mereka yang pura-pura miskin, ingin tak ingin mereka sepatutnya menurunkan gaya hidup, tak terlalu berkoar-koar ketika tamasya, dan juga menjaga lingkaran persahabatan. Iya, yang terakhir ini penting. Bukannya tinggi hati, namun persahabatan, layaknya jodoh, akan pas jika selevel.

Sebab jika beda tahapan sedikit, karenanya risikonya yaitu, naiknya potensi sindir-sindiran antarteman ini. Sahabat dengan kelas sosial yang lebih rendah akan merasa bahwa kawannya terlalu tinggi hati. Sementara itu, mereka dengan kelas sosial yang lebih tinggi akan berdaya upaya bahwa kawannya tak punya selera yang bagus. Terlepas dari kelas sosial seperti apa, sepatutnya senantiasa berpura-pura untuk miskin cuma demi menjaga perasaan orang lain, memang membuat dongkol. Sebab, bukankah kita segala punya hak untuk merasakan apa yang telah kita usahakan sebelumnya?

Harga Besi Beton